cara mensucikan hati

          Kita sebagai khalifah Allah dilengkapi dengan pelbagai kelebihan, tetapi sebagai hamba Allah, ia juga memiliki berbagai kelemahan. Disamping potensi untuk kebaikan, pada diri kita juga terdapat potensi yang menjerumuskanya ke lembah kehinaan. Di satu sisi, kita sebagai manusia memiliki fitrah berketuhanan seperti yang disebut dalam surat ar Rum/ 30: 30 yang menyebabkan ia rindu untuk mendekatkan diri (taqarrub dan taraqqi) kepada Allah, tetapi pada sisi yang lain ,manusia memiliki hawa nafsu yang cenderung suka mengejar kenikmatan sesaat yang sifatnya rendah yang jika diturut, akan menjauhkan hubungan manusia itu dengan Nya.

          Dalam surat Ali Imran 14 disebutkan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk mengikuti dorongan syahwatnya manyangkut wanita, anak-anak, perhiasan emas perak, kendaraan, ternak dan tanah ladang. Kesemua hal tersebut bagi manusia mengandung makna kenikmatan, kebanggaan dan manfaat, dan kesemuanya itu merupakan harta yang bersifat duniawi.

Salah satu penghambat hubungan manusia dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah cinta harta atau hubb ad dunya, mencintai hal-hal yang berskala dekat. Untuk mendekat kepada Allah, terlebih dahulu manusia harus bersih jiwanya, dan cinta harta merupakan salah satu daki yang mengotori jiwanya itu. Salah satu bentuk sifat orang yang cinta harta adalah kikir, dan ia benar-benar merusak jiwa manakala dipatuhi, seperti yang dikatakan dalam hadis Nabi Riwayat Tabrani bahwa satu dari tiga hal yang merusak manusia adalah sifat kikir yang dipatuhi .

            Oleh karena itu metode melawan kekikiran adalah tidak mematuhinya yakni dengan cara mengeluarkan sebagian hartanya untuk sadaqah, meski hawa nafsunya menyuruh yang sebaliknya. Perlawanan terus menerus terhadap sifat kikir itu merupakan proses tazkiyyah, dan karena kuatnya pengaruh hawa nafsu maka Al-Qur’an mengisyaratkan perlunya campur tangan kekuasaan untuk melakukan perlawanan terhadap sifat kikir manusia dalam bentuk perintah mengambil zakat bagi yang sudah berkewajiban seperti yang disebut dalam surat at Taubah/9:103 Alqur’an sangat konsisten dalam menganjurkan pengeluaran harta, baik yang diwajibkan (zakat) maupun yang dianjurkan (sedekah), sampai nafs yang sudah tercemar dapat kembali menjadi nafs zakiyyah, seperti pendapat Abu Amr Ibn al A’la yang dikutip oleh ar Razi, yakni nafs yang tidak lagi terbelenggu oleh dorongan-dorongan syahwat.

           Apa yang dilakukan oleh Abu Bakar Siddik ketika beliau mengeluarkan harta untuk membebaskan Bilal, seorang budak muslim yang sedang disiksa oleh majikannya karena keislamannya dipandang sebagai perwujudan dari jiwa yang sudah bersih. Seperti yang banyak disebut oleh para mufassir bahwa turunnya surat al Lail/95:18 – adalah berkenaan dengan perbuatan Abu Bakar tersebut. Dapat disebut sebagai puncak tazkiyyah adalah apa yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim ketika beliau siap melaksanakan perintah Allah menyembelih puteranya, Isma’il, karena posisi Isma’il bagi Ibrahim adalah harta yang tak ternilai, melebihi nilai seluruh hartanya.

          Sebagaimana halnya kodrat kita di hadapan kekuasaan Allah, kita tidak bisa menjamin keberhasilan usahanya melakukan tazkiyyah, sebagaimana Rasul juga tidak bisa menjamin keberhasilan usahanya berdakwah sampai-sampai pamannya sendiri tidak beriman
           seperti yang disebut dalam surat al Qasas/28 : 56. Dalam hal ini Al Qur’an disamping memuji orang yang berusaha melakukan tazkiyah juga menyebut tentang adanya hak otonomi Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Surat anNur 21 dan anNisa/5: 49 menyebutkan bahwa Allah mensucikan jiwa dari orang-orangyang dikehendaki Nya.

Orang Terbaik

 Cara Mensucikan Hati, cara mensucikan hati menurut islam, CARA MENSUCIKAN JIWA,

             cara mensucikan diri, mensucikan hati dalam islam, tips mensucikan hati, cara mensucikan diri menurut islam, mensucikan hati Allah, mensucikan hati, MENSUCIKAN HATI PPT, mensucikan jiwa dan harta menurut islam, mensucikan diri menurut agama islam, www doa untuk suami, mensucikan mata hati, pidato mensucikan hati, pidato tentang mensucikan hati, pidato upaya mensucikan diri, proses mensucikan hati, tip mensucikan hati, tips mensucikan hati dan jiwa, tipsmensucikan hati, www cara mensucikan manstrubasi com, kultum tentang cara mensucikan hati, hadits tentang mensucikan jiwa, doa mensucikan mata batin, Bagaimana cara mensucikan jiwa menurut hadist, bagaimana cara mensucikan mata hati, cara cara mensucikan hati, cara mensucikan diri menurut alquran, cara mensucikan diri untuk agama islam

 

 

Cara Mensucikan Hati

Hati itu bagaikan kaca mata. Kalau kita menggunakan kaca mata yang bening,
apa yang kita lihat akan tampak apa adanya. Yang putih akan jelas putihnya,
yang coklat muda akan jelas warna aslinya. Namun kalau kita menggunakan
kaca mata hitam, apa yang kita lihat tidak akan sesuai aslinya. Yang putih
akan kelihatan abu muda dan warna coklat muda akan menjadi coklat tua.
Demikian juga hati, kalau hati jernih, kita akan melihat realita itu apa
adanya, sementara kalau hati kita kotor atau hitam, kita akan melihat
realita itu tidak seperti sebenarnya.

Oleh karena itu, mulia tidaknya seseorang tidak dilihat dari tampilan
lahiriahnya tapi dari performa batiniah atau hatinya. “Sesungguhnya Allah
tidak melihat rupa dan harta-hata kamu tapi melihat hati dan perbuatanmu.”
(H.R. Muslim).

Al Qurtubi berkata, “Ini sebuah hadits agung yang mengandung pengertian
tidak diperbolehkankannya bersikap terburu-buru dalam menilai baik atau
buruknya seseorang hanya karena melihat gambaran lahiriah dari perbuatan
taat atau perbuatan menyimpangnya. Ada kemungkinan di balik pekerjaan saleh
yang lahiriah itu, ternyata di hatinya tersimpan sifat atau niat buruk yang
menyebabkan perbuatannya tidak sah dan dimurkai Allah swt. Sebaliknya, ada
kemungkinan pula seseorang yang terlihat teledor dalam perbuatannya
ternyata di hatinya terdapat sifat terpuji yang karenanya Allah swt.
memaafkannya.

Sesungguhnya perbuatan-perbuatan lahir itu hanya merupakan tanda-tanda
dhanniyyah (yang diperkirakan) bukan qath’iyyah (bukti-bukti yang pasti).
Oleh karena itu tidak diperkenankan berlebih-lebihan dalam menyanjung
seseorang yang kita saksikan tekun melaksanakan amal saleh, sebagaimana
tidak diperbolehkan pula menistakan seorang muslim yang kita pergoki
melakukan perbuatan buruk.. Demikian Imam Qurtubi menjelaskan dalam
tafsirnya. Rasulullah saw. bersabda dalam riwayat lain, “Ali bin Abi Thalib
r.a. menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Tiada satu hati pun kecuali memiliki awan seperti awan menutupi bulan.
Walaupun bulan bercahaya, tetapi karena hatinya ditutup oleh awan, ia
menjadi gelap. Ketika awannya menyingkir, ia pun kembali bersinar.”
(H.R.Bukhari dan Muslim)

Hadits ini memberikan ilustrasi yang sangat indah. Hati manusia itu
sesungguhnya bersih atau bersinar, namun suka tertutupi oleh awan
kemaksitan hingga sinarnya menjadi tidak tampak. Oleh sebab itu, kita harus
berusaha menghilangkan awan yang menutupi cahaya hati kita. Bagaimana
caranya?

1. Introspeksi diri
Introspeksi diri dalam bahasa arab disebut Muhasabatun Nafsi, artinya
mengidentifikasi apa saja penyakit hati kita. Semua orang akan tahu apa
sebenarnya penyakit qalbu (hati) yang dideritanya itu.
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok
(akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Hasyr 59 : 18)

2. Perbaikan Diri
Perbaikan diri dalam bahasa populer disebut taubat. Ini merupakan tindak
lanjut dari introspeksi diri. Ketika melakukan introspeksi diri, kita akan
menemukan kekurangan atau kelemahan diri kita. Nah, kekurangan-kekurangan
tersebut harus kita perbaiki secara bertahap. Alangkah rugi kalau kita
hanya pandai mengidentifikasi kelemahan diri tapi tidak memperbaikinya.
“Hai orang-orang yang beriman, Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang
semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus
kesalahan-kesalahanmu dan memasukkah kamu ke dalam surga yang mengalir di
bawahnya sungai-sungai,..” (Q.S.At-Tahrim 66:8)

3. Tadabbur Al Qur’an
Tadabbur Al Qur’an artinya menelaah isi Al-Qur’an, lalu menghayati dan
mengamalkannya. Hati itu bagaikan tanaman yang harus dirawat dan dipupuk.
Nah, di antara pupuk hati adalah tadabbur Qur’an. Allah menyebutkan
orang-orang yang tidak mau mentadabburi Qur’an sebagai orang yang tertutup
hatinya. Artinya, kalau hati kita ingin terbuka dan bersinar, maka
tadabburi Qur’an.
“Mengapa mereka tidak tadabbur (memperhatikan) Al-Qur’an, ataukah hati
mereka terkunci atau tertutup.” (Q.S.Muhammad 47 : 24)

4. Menjaga Kelangsungan Amal Saleh
Amal saleh adalah setiap ucapan atau perbuatan yang dicintai dan diridoi
Allah swt. Apabila kita ingin memiliki hati yang bening, jagalah
keberlangsungan amal saleh sekecil apapun amal tersebut. Misalnya, kalau
kita suka rawatib, lakukan terus sesibuk apapun, kalau kita biasa pergi ke
majelis ta’lim, kerjakan terus walau pekerjaan kita menumpuk. Rasulullah
saw bersabda,

“…Beramallah semaksimal yang kamu mampu, karena Allah tidak akan bosan
sebelum kamu bosan, dan sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah
amal yang kontinyu (terus-menerus) walaupun sedikit.” (H.R. Bukhari)

5. Mengisi Waktu dengan Zikir
Zikir artinya ingat atau mengingat. Dzikrullah artinya selalu mengingat
Allah. Ditinjau dari segi bentuknya, ada dua macam zikir. Pertama, zikir
Lisan, artinya ingat kepada Allah dengan melafadzkan ucapan-ucapan zikir
seperti Subhannallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar, Laa Ilaaha illallah,
dll. Kedua, Zikir Amali, artinya zikir (ingat) kepada Allah dalam bentuk
penerapan ajaran-ajaran Allah swt. Dalam kehidupan. Misalnya, jujur dalam
bisnis, tekun saat bekerja, dll. Hati akan bening kalau hidup selalu diisi
dengan zikir lisan dan amali.

“Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah,
zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan
petang.”
(Q.S.Al-Ahzab 33 : 41-42)

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu,
dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.”
(Al-Baqarah 2 :152)

6. Bergaul dengan Orang-Orang Saleh
Lingkungan akan mempengaruhi perilaku seseorang. Karena itu, kebeningan
hati erat juga kaitannya dengan siapakah yang menjadi sahabat-sahabat kita.
Kalau kita bersahabat dengan orang yang jujur, amanah, taat pada perintah
Allah, tekun bekerja, semangat dalam belajar, dll., diharapkan kita akan
terkondisikan dalam atmosfir (suasana) kebaikan. Sebaliknya, kalau kita
bergaul dengan orang pendendam, pembohong, pengkhianat, lalai akan
ajaran-ajaran Allah, dll., dikhawatirkan kita pun akan terseret arus
kemaksiatan tersebut. Kerena itu, Allah swt.. mengingatkan agar kita
bergaul dengan orang-orang saleh seperti dikemukakan dalam ayat berikut.
“Dan bersabarlah dirimu bersama orang-orang yang menyeru Tuhan mereka di
waktu pagi dan petang, mereka mengharapkan keridoan-Nya, dan janganlah kamu
palingkan kedua matamu dari mereka karena menghendaki perhiasan hidup
dunia. Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami
lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya; dan adalah
keadaan itu melewati batas.” (Q.S. Al-Kahfi 18 : 28)

7. Berbagi Kasih dengan Fakir, Miskin, dan Yatim
Berbagi cinta dan ceria dengan saudara-saudara kita yang fakir, miskin, dan
yatim merupakan cara yang sangat efektif untuk meraih kebeningan hati,
sebab dengan bergaul bersama mereka kita akan merasakan penderitaan orang
lain. Rasulullah saw. bersabda,
“Abu Hurairah r.a. bercerita, bahwa seseorang melaporkan kepada Rasulullah
saw. tentang kegersangan hati yang dialaminya. Beliau saw. menegaskan,
“Bila engkau mau melunakkan (menghidupkan) hatimu, beri makanlah
orang-orang miskin dan sayangi anak-anak yatim.” (H.R.Ahmad).

8. Mengingat Mati
Modal utama manusia adalah umur. Umur merupakan bahan bakar untuk
mengarungi kehidupan. Kebeningan hati berkaitan erat dengan kesadaran bahwa
suatu saat bahan bakar kehidupan kita akan manipis dan akhirnya habis.
Kesadaran ini akan menjadi pemacu untuk selalu membersihkan hati dari awan
kemaksiatan yang menghalangi cahaya hati. Rasulullah saw. menganjurkan agar
sering berziarah supaya hati kita lembut dan bening. “Anas r.a. mengatakan
bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Dulu, aku pernah melarang kalian berziarah ke kuburan. Namun sekarang,
berziarahlah, karena ia dapat melembutkan hati, mencucurkan air mata, dan
mengingatkan akan hari akhirat.” (H.R.Hakim)

9. Menghadiri Majelis Ilmu
Hati itu bagaikan tanaman, ia harus dirawat dan dipupuk. Di antara pupuk
hati adalah ilmu. Karena itu, menghadiri majelis ilmu akan menjadi media
pensucian hati. Rasulullah saw. menyebutkan bahwa Allah swt. akan
menurunkan rahmat, ketenangan dan barakah pada orang-orang yang mau
menghadiri majelis ilmu dengan ikhlas.
“Tidak ada kaum yang duduk untuk mengingat Allah, kecuali malakikat akan
menghampirinya, meliputinya dengan rahmat dan diturunkan ketenangan kepada
mereka, dan Allah akan menyebutnya pada kumpulan (malaikat) yang ada di
sisi-Nya.” (H.R. Muslim)

10. Berdo’a kepada Allah swt.
Allah swt. Maha Berkuasa untuk membolak balikan hati seseorang. Karena itu
sangat logis kalau kita diperintahkan untuk meminta kepada-Nya dijauhkan
dari hati yang busuk dan diberi hati yang hidup dan bening. Menurut Ummu
salamah r.a,. do’a yang sering dibaca Rasulullah saat meminta kebeningan
hati adalah:
Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa diinika (Wahai yang
membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah hatiku berpegang pada agama-Mu).
Perhatikan riwayat berikut,.

“Syahr bin Hausyab r.a. mengatakan bahwa ia pernah bertanya kepada Ummu
Salamah, “Wahai ibu orang-orang yang beriman, do’a apa yang selalu
diucapkan Rasulullah saw. saat berada di sampingmu?” Ia menjawab: “Do’a
yang banyak diucapkannya ialah, ‘Ya Muqallibal quluub, tsabbit qalbii ‘alaa
diinika (Wahai yang membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbuku pada
agama-Mu).” ” Ummu Salamah melanjutkan, “Aku pernah bertanya juga, “Wahai
Rasulullah, alangkah seringnya engkau membaca do’a: “Ya Muqallibal quluub,
tsabbit qalbii ‘alaa diinika.” Beliau menjawab: “Wahai Ummu Salamah, tidak
ada seorang manusia pun kecuali qalbunya berada antara dua jari Tuhan Yang
Maha Rahman. Maka siapa saja yang Dia kehendaki, Dia luruskan, dan siapa
yang Dia kehendaki, Dia biarkan dalam kesesatan.” (H.R.Ahmad dan Tirmidzi.)

Selain do’a di atas, Ibnu Abbas r.a. menceritakan bahwa ketika menginap di
rumah Rasulullah saw., ia pernah mendengar beliau mengucapkan do’a berikut,

“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya, di lidahku cahaya, di
pendengaranku cahaya, di penglihatanku cahaya. Jadikan di belakangku
cahaya, di hadapanku cahaya, dari atasku cahaya, dan dari bawahku cahaya.
Ya Allah berikan kepadaku cahaya.” (H.R.Muslim)

Kesimpulannya, hati merupakan panglima untuk seluruh anggota jasad kita.
Kalau hati bening, kelakuan kita pun akan beres. Tapi kalau hati kita
busuk, seluruh amaliah pun busuk. Ada sepuluh cara agar kita memiliki hati
yang suci, yaitu; Introspeksi diri, perbaikan diri, tadabbur Qur’an,
menjaga kelangsungan amal saleh, mengisi waktu dengan zikir, bergaul dengan
orang-orang saleh, berbagi kasih dengan fakir miskin dan anak yatim,
mengingat mati, menghadiri majelis ta’lim, dan berdo’a kepada Allah swt.
Mudah-mudahan Allah swt. selalu memberi
kepada kita hati yang bening. Amiin . Wallahu A’lam

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s